Tak sanggup lagi kami tetaskan airmata tapi kalian masih saja eramkan derita
Telah kami ziarahi setiap tajam yang
kalian makamkan di tubuh kami

Mau cepat mencari keripik yang Anda mau, gunakan ini

Loading...

Tuesday, July 24, 2012

Seorang Suami Mengijinkan Istrinya Merantau

Ia kini menyerah pada keadaan, keadaan yang tak kenal belas kasihan
diijinkanlah istrinya pergi merantau, pergi dari dia dan anak-anak mereka.

Ia berpesan pada istrinya: bila ada libur panjang sempatkanlah pulang,
jangan lupa belikan oleh-oleh mainan dan jajanan, pasti mereka senang.

Ia telah siap jadi bapak sekaligus ibu rumah tangga selama istrinya di rantau.
Ia sudah hafal kapan dan bagaimana istrinya mengerjakan tugas-tugasnya.

Ia harus bangun lebih pagi, menghidupkan tungku saat anak-anak masih lelap
dan setelah urusan pengisi perut beres, ia masih harus mencuci pakaian mereka.

*

Ia dulu kumbang tampan, istrinya kembang desa, saling jatuh cinta lalu menikah
ketika desa masih butuhkan tenaga manusia, dan nafkah dijemput sangatlah mudah.

Ia dan istrinya hidup sederhana di sebuah gubuk sederhana, namun bahagia.
Lalu satu demi satu tangis bayi memberi warna di gubuk sederhana mereka.

Mereka orang desa yang tak kenal keluarga berencana, setahun sekali sang istri melahirkan
hingga ramailah gubuk sederhana mereka dengan canda dan tengkar lima buah hatinya.

Namun sejalan usia anak-anak, waktu kian mengubah wajah dan tabiatnya
Desa dirasakan tak lagi ramah, tenaga mereka telah dikalahkan aneka mesin pengolah

Kini, ia pun jadi lebih banyak diam di rumah bersama peralatan bertaninya
lantaran tetangga-tetangganya tak lagi memburuhkannya, penghasilannya tak lagi ada.

*

Setiap hari istrinya mengeluhkan keadaan, tapi apa daya ia tak bisa banyak berbuat
meski dalam hati ia ingin bekerja seperti silam kala, namun kini segalanya telah berubah.

Anak-anak mesti sekolah biarpun cuma sekolah rendah, biar tak seperti dirinya
yang tak kenal aksara dan angka, sebab ia terlahir dari keluarga tak punya.

Kala remaja, ia tak bisa sekolah, ia mesti bekerja demi meringankan beban hidup keluarga,
kala itu di mata orang tuanya pendidikan dianggap tak terlalu berguna.

Kini ia menyesal dan tak ingin anak-anak mengulangi kebodohannya, tak sekolah,
maka ia ijinkan istrinya pergi dari desa mencari nafkah di ibu kota, demi anak-anak sekolah.

*

Dengan malu-malu ia juga berpesan pada istrinya saat mengantarkan ke terminal:
belikan juga aku rokok dan kopi dari kota yang gurih dan sedap itu, ya!?

Dan istrinya menjawab: iya, asal Pakne jangan macam-macam selama aku tak ada!
Dalam hati ia membalas: Bune juga jangan macam-macam selama di ibu kota!



Jakarta, Juli 2012

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cernalah cemilan di bawah ini, mungkin kelak berguna

Sesekali persembahkanlah puisi untuk orang yang amat kau cintai sebab cinta seperti tanaman yang mesti dijaga kesuburannya. Sekarang segar bisa jadi nanti layu. Maka perlu semacam pupuk agar cinta senantiasa subur dan rimbun agar kita bisa bernaung. Dan puisi sebagai salah satu jenis pupuk itu.

Pengorbanan untuk mendapatkan dia yang kita cintai seyogyanya diselaraskan dengan berapa uang di dompet, longgar waktu di luang, dan kuat daya di badan. Semakin kita memaksakan diri berkorban melampaui kemampuan, maka kita akan kian kelelahan lalu menyerah sebelum meraih cinta itu.

Lokasi yang pernah dan sedang menikmati keripik

P e n g a k u a n

Gambar header di blog ini saya comot dari situs lain, maka bila Anda pemiliknya dan merasa keberatan, mohon kirim klaim ke surel: tilarsopetarukan@ymail.com